Gelas itu masih di tempatnya: sudut kanan atas meja kerja, pegangan menghadap kanan, air putihnya tinggal seperempat. Alfan menghabiskan sisanya dalam satu teguk tanpa berpikir, lalu membawa gelas kosong itu ke wastafel, seperti membereskan barang milik teman sekamar yang kebetulan selalu bangun lebih siang darinya.
Matanya perih. Mata yang sama yang semalam membaca ulang daftar periksa serah terima sampai hurufnya mulai berbayang, baris demi baris, centang demi centang, dengan ketelitian yang sekarang terasa seperti pasir tipis di balik kelopak. Softlens yang dia pasang terasa seret di mata yang kurang tidur. Dia mengedip beberapa kali di depan cermin kamar mandi sampai pandangannya jernih, lalu menyeringai ke pantulannya sendiri, ke kantung mata yang bisa ditebak semua orang di Wirandika sebagai tanda kerja keras.
"Hari panen," gumamnya, lebih ke cermin daripada ke siapa pun.
Di dapur kecil, dia membuka sachet kopi yang belum pernah dia coba, robusta dengan bungkus cokelat tua yang dia comot asal dari rak minimarket minggu lalu. Dia menyeduhnya lebih kental dari takaran di bungkusnya. Pahitnya langsung menggigit di tegukan pertama, dan dia mengernyit sambil tertawa kecil sendiri, tapi tetap meminumnya. Pagi ini dia butuh sesuatu yang lebih tajam dari biasanya. Cangkirnya dia letakkan di samping laptop, agak miring dan agak terlalu ke tengah, lalu dia lupakan di situ.
Map plastik bening di atas meja sudah menunggunya, persis seperti yang ditinggalkan semalam. Isinya dua rangkap Berita Acara Serah Terima Pekerjaan — Tahap I, dicetak rapi, dijepit di sudut kiri atas, belum bermaterai. Di bawahnya ada lampiran daftar fitur modul administrasi: data induk guru dan siswa, presensi guru, penjadwalan ruang. Semuanya sudah dicentang, termasuk integrasi mesin sidik jari yang sempat mundur seminggu dan baru tuntas Jumat kemarin. Dia tidak perlu membukanya untuk tahu isinya. Dia ingat setiap barisnya, sama seperti dia ingat rasa kopi pagi ini: bukan karena menghafalnya, tapi karena dia ada di sana waktu semua itu ditulis.
Dia membuka halaman terakhir, tempat kolom tanda tangan. Kiri: Pihak Pertama, Kepala Sekolah, lengkap dengan nama Pak Darmawan. Kanan: Pihak Kedua, Penyedia, untuk dirinya. Di tengah bawah, satu kolom lagi yang lebih kecil: Mengetahui, Penanggung Jawab Program.
Pak Bayu.
Selama dua bulan, nama itu cuma muncul lewat mulut Pak Darmawan, terselip di sela obrolan rapat: "Itu nanti Pak Bayu yang pegang datanya," "Akun guru biar Pak Bayu yang bikin," "Pak Bayu lagi ke dinas, Mas." Nama yang punya akses ke semua data sekolah, yang menyusun data induk yang mereka tarik ke sistem, yang entah kenapa tidak pernah sekali pun ada di ruangan yang sama dengan mereka. Hari ini, katanya, dia akan datang. Rapat evaluasi mingguan pertama, sekaligus penutupan tahap pertama, dan kolom kecil di tengah bawah itu butuh paraf.
Alfan memutar-mutar kunci apartemen di jarinya, bersiul pelan tanpa nada yang jelas, sambil membayangkan orangnya. Operator sekolah. Orang yang hidupnya di antara tenggat data dan surat dinas. Orang teknis, mungkin pendiam, mungkin tipe yang membaca berita acara sambil mencari satu kata yang salah ketik. Bayangan itu tidak membuatnya gentar. Dia sudah menghadapi puluhan kepala sekolah, guru, staf tata usaha, dan tidak ada satu pun yang tidak bisa dia ajak tertawa di menit kelima. Tapi ada catatan kecil yang ikut lewat, sesuatu yang lebih mirip pengamatan daripada kekhawatiran: kalau pertanyaannya nanti teknis, bukan soal fitur atau linimasa tapi soal kenapa kodenya begini, itu wilayah yang biasanya tidak perlu dia jawab sendirian.
Dia menepis pikiran itu dengan tegukan kopi yang terlalu pahit. Toh semuanya sudah dicentang.
Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, dia tidak meraih kaos dari lemari. Tangannya berhenti sebentar di depan gantungan, lalu menarik satu-satunya kemeja yang tidak perlu disetrika ulang: biru muda, lengan panjang, yang terakhir dia pakai waktu tanda tangan kontrak di awal Juni. Hari tanda tangan, pakaian tanda tangan. Logikanya sederhana, dan dia menyukainya karena sederhana.
Map BAST masuk ke tas kerja, diselipkan di antara laptop dan charger supaya tidak terlipat. Dia mengunci pintu, menuruni tangga dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya, dan baru di halte dia sadar cangkir kopinya tertinggal di samping laptop, masih setengah penuh, miring, tidak di tempat yang semestinya.
Dia mengangkat bahu. Nanti malam juga sudah dibereskan.
Pak Yono langsung bersiul begitu Alfan melewati pintu lobi.
"Wih, rapi amat, Mas Alfa. Kemeja segala. Mau lamaran di mana?"
"Lamaran kerja, Pak. Sama sekolah ini." Alfan merentangkan kedua tangan, memamerkan kemejanya seperti peragawan yang salah panggung. "Hari ini tanda tangan serah terima tahap satu."
"Oh, pantes." Pak Yono manggut-manggut, lalu mencondongkan badan dari balik meja resepsionis, merendahkan suara seperti membagi rahasia negara. "Tapi Pak Bayu dari subuh udah cabut ke dinas, Mas. Motornya nggak ada dari pagi."
Langkah Alfan tertahan setengah. "Lho, bukannya hari ini ikut rapat?"
"Wah, kalau itu saya nggak tau. Saya cuma tau parkirannya kosong." Pak Yono mengangkat bahu, lalu kembali duduk tegak begitu dua murid lewat sambil berlari di lorong. "Jangan lari! — Langsung aja ke ruang rapat, Mas. Pak Kepala udah di dalam dari tadi."
Lorong lantai satu sudah sepi; jam pelajaran ketiga sedang berjalan, dan satu-satunya suara selain gema langkahnya sendiri di lantai keramik adalah suara guru dari balik pintu kelas yang terbuka, membacakan sesuatu dengan nada yang naik-turun. Bel di kejauhan berbunyi sekali, menandai pergantian jam di gedung sebelah.
Ruang rapat sudah setengah terisi. Dinding hijau pastel dengan poster motivasi pendidikan yang warnanya pudar di sudut-sudut, proyektor tua yang gambarnya selalu sedikit buram di pinggir layar, jam dinding besar di atas pintu yang jarumnya menunjuk pukul sepuluh lewat sedikit. Pak Darmawan duduk di kepala meja dengan kemeja batik lengan pendek dan mug kopi hitam yang jelas dibawa dari ruangannya sendiri, membolak-balik berkas dengan pulpen merah di tangan. Di sisi kanannya, Bu Sari sudah menata tiga map, merah, kuning, hijau, berjajar rapi di samping laptopnya, seperti lampu lalu lintas yang ditidurkan.
Beberapa guru lain sudah duduk. Guru olahraga bertubuh tegap mengambil kursi paling dekat pintu, "biar gampang kabur kalau bosan", candaan yang dia ulang hampir di setiap rapat dan tetap dia tertawakan sendiri. Di dekat proyektor ada seorang guru perempuan paruh baya berkerudung batik, kacamata baca bertengger di ujung hidung, buku catatan kecil sudah terbuka di depannya. Alfan menyapa satu-satu sambil berjalan ke kursinya, ringan, seperti menyapa tetangga.
Lalu matanya berhenti di ujung meja.
Kursi itu kosong, agak menjorok dari deretan kursi lain. Bukan kursi cadangan yang biasa ditaruh di sudut untuk tamu mendadak, tapi kursi yang sengaja disiapkan: map biru diletakkan rapi di depannya, pulpen ditaruh sejajar di atasnya, gelas air mineral dengan segel yang belum dibuka berdiri di sampingnya. Semuanya menunggu seseorang yang sudah pasti akan datang.
"Pak Bayu jadi ke sini, Pak?" Alfan bertanya sambil menarik kursinya sendiri, mencolokkan kabel HDMI ke laptop. Kabelnya longgar seperti biasa; butuh dua kali colok ulang sebelum gambar di layar berhenti berkedip.
Pak Darmawan menghela napas panjang, lalu menepuk meja pelan. "Nggak bisa, Mas. Dipanggil dinas dari subuh, soal data TKA. Belum lagi RKAS BOS-nya harus direvisi minggu ini, terus cut off Dapodik juga udah di depan mata." Dia menggeleng. "Kasihan juga saya. Satu orang dikejar tiga tenggat."
"Waduh. Terus kursi itu?"
"Oh, itu bukan buat Pak Bayu." Pak Darmawan mengangguk ke arah ujung meja. "Itu buat Bu Nadya."
Alfan menunggu lanjutannya.
"Waka kurikulum yang baru. Baru diangkat tahun ajaran ini." Pak Darmawan menyandarkan punggung, tangannya terlipat di atas perut. "Dulu kan apa-apa Pak Bayu, Mas. Data, akun, sampai urusan kurikulum juga dia yang pegang. Sekarang udah ada Bu Nadya, jadi Pak Bayu minta Bu Sari sama Bu Nadya ikut ngerumusin programnya juga. Bu Sari buat yang administrasi, Bu Nadya buat yang akademik. Besok kan mulai modul nilai. Itu wilayahnya dia."
"Saya mah tinggal nyocokin aja, Mas," Bu Sari menimpali tanpa berhenti mengetik. "Yang mikir-mikir itu Bu Nadya."
"Orangnya gimana, Pak? Biar saya nggak salah nyapa."
Pak Darmawan tertawa kecil. "Masih muda. Baru sebulan jadi waka, tapi guru-guru yang senior aja udah pada segan." Dia mengetuk-ngetukkan pulpen merahnya ke berkas. "Waktu seleksi masuk dulu, katanya dia satu-satunya kandidat yang berani ngoreksi soal tes tertulis yang salah ketik. Kepala yayasan langsung suka."
"Rapat pertama jadi waka," guru olahraga dari dekat pintu ikut menyela, "dia bawa notulen rapat tahun lalu, Mas. Terus nanya, kenapa keputusan yang sama dibahas tiga kali tapi nggak pernah dijalanin." Dia tertawa keras sendiri. "Satu ruangan diem semua."
"Katanya lagi ngurusin jadwal ulangan kelas sebelas yang tabrakan," tambah Pak Darmawan. "Nyusul nanti."
Alfan mengangguk, menyimpan nama itu di kepalanya. Nadya. Waka kurikulum. Dan, tanpa dia sengaja, ada sesuatu yang mengendur di dadanya. Kekhawatiran tipis yang ikut terbawa dari halte tadi pagi, soal pertanyaan teknis yang bukan wilayahnya, ikut larut begitu saja. Waka kurikulum berarti urusannya rapor, jadwal ulangan, format penilaian. Bukan kode.
Tapi cerita soal notulen tahun lalu itu tertinggal di kepalanya lebih lama dari yang perlu. Orang yang membaca notulen setahun ke belakang cuma untuk menghitung berapa kali sebuah keputusan diulang. Entah kenapa, bayangan itu terasa lebih menarik daripada mengintimidasi.
Bu Sari mencondongkan badan ke arahnya sebelum rapat dimulai. "Mas, yang soal tulisan tangan Pak Hadi itu masuk tahap dua nggak?"
"Masuk daftar tunggu, Bu. Belum janji, tapi udah dicatat."
Bu Sari menuliskan sesuatu di secarik kertas, lalu menyelipkannya ke map kuning.
"Kuning ya, Bu? Menunggu?"
Bu Sari menoleh, kaget sekaligus senang. "Lha, Mas hafal."
Rapat dimulai tanpa Pak Bayu, dan tanpa Nadya. Pak Darmawan membukanya dengan basa-basi soal hujan deras semalam dan genteng ruang guru yang bocor lagi di titik yang sama, lalu meletakkan pulpen merahnya dan menatap meja.
"Hari ini kita tutup tahap satu. Silakan, Mas Alfa."
Alfan berdiri. Slide yang muncul di layar adalah slide yang disusun seminggu lalu, rapi, berurutan, angka-angkanya sudah dicek dari dua sumber. Penurunan bug delapan puluh persen dari bulan lalu. Data induk guru dan siswa yang ditarik dari data yang disiapkan Pak Bayu, tanpa satu pun duplikat. Presensi guru yang sekarang sudah tersambung ke mesin sidik jari lama, tuntas Jumat kemarin, seminggu lebih lambat dari rencana tapi tanpa mengganggu jadwal apa pun. Dia menyampaikan semuanya dengan bahasa yang jauh lebih sederhana dari bentuk aslinya. Untuk penjadwalan ruang, dia meminjam analogi jadwal piket kelas, dan beberapa guru mengangguk paham.
Lalu daftar periksa. Satu per satu, Bu Sari mengonfirmasi dari sisi pengguna.
"Data induk guru, sesuai, Mas. Data siswa, sesuai." Dia menggulir layar laptopnya. "Presensi, yang manual bulan Juli udah saya masukin semua, cocok sama yang dari mesin." Centang. Centang. "Penjadwalan ruang—"
Guru berkerudung batik di dekat proyektor mengangkat tangan.
"Maaf, Mas, sebelum dicentang. Saya mau tanya soal penjadwalannya. Kalau ada dua kegiatan yang bentrok di satu ruangan yang sama, sistemnya gimana nentuin mana yang didahulukan?"
Alfan menjawab tanpa jeda. "Sistemnya kasih notifikasi ke admin kalau ada bentrok, Bu, terus admin yang putuskan. Kita sengaja nggak bikin sistem yang mutusin sendiri, biar tetap ada manusia di keputusan kayak gitu. Kalau yang bentrok itu lab sama lapangan buat acara sekolah, kan pertimbangannya beda, bukan cuma soal siapa yang input duluan."
Dia tahu logikanya. Dia ingat malam ketika celah penjadwalan itu ditutup, baris kode yang ditelusuri ulang satu per satu sampai kondisi yang bocor ketemu, kepuasan kecil ketika semua tes kembali hijau. Ingatan itu ada, utuh. Tapi ingatan soal kode selalu terasa seperti peta kota yang hafal di kepala tapi belum pernah dia jalani dengan kakinya sendiri: dia tahu jalannya, dia tidak tahu rasanya tersesat di sana.
Guru itu mengangguk, tapi belum selesai. Dia melepas kacamata bacanya, melipat tangan. "Terus kalau bentroknya baru ketahuan pas hari-H, Mas? Kan telat kalau harus nunggu admin. Apalagi kalau adminnya lagi nggak di sekolah." Dia melirik sekilas ke arah pintu, ke parkiran yang sejak pagi kosong. "Kayak hari ini."
Beberapa guru tertawa kecil. Alfan ikut tersenyum, tapi kali ini jawabannya tidak langsung datang. Dia merangkainya dari potongan-potongan diskusi teknis yang dia ingat, menyusunnya di udara sambil bicara.
"Itu kita lagi godok mekanisme cadangannya, Bu. Ada rencana notifikasi real-time langsung ke HP admin, jadi nggak perlu nunggu orangnya di depan komputer. Detailnya saya update minggu depan."
"Minggu depan, ya, Mas." Guru itu menulis sesuatu di buku kecilnya. Pulpennya mencicit, tintanya mulai habis. "Saya catat."
Alfan tersenyum secukupnya dan kembali ke slide. Tapi dia tahu pertanyaan itu belum selesai. Cuma ditunda.
Bu Sari menunggu sebentar, jarinya melayang di atas daftar periksa. "Ini penjadwalan ruangnya... dicentang atau nggak, Pak?"
Pak Darmawan belum sempat menjawab ketika ponselnya bergetar di atas meja. Dia membacanya, alisnya naik, lalu membacakannya keras-keras dengan nada orang yang sedang mendikte surat.
"Dari Pak Bayu. 'Pak, mohon maaf saya belum bisa merapat, masih di dinas. Paraf mengetahui di BAST biar Bu Nadya saja. Dokumentasi teknis dari vendor sudah saya taruh di drive sekolah, Bu Nadya sudah saya kasih akses. Besok sekalian pembukaan modul nilai.'" Dia meletakkan ponselnya. "Nah."
Ponsel itu bergetar lagi sebelum sempat dibalik. Pak Darmawan membacanya, kali ini tanpa suara, lalu terkekeh.
"Bu Nadya. Ulangan kelas sebelasnya mundur ke jam terakhir, nggak sempat ke sini." Dia menoleh ke Alfan, nadanya santai. "Ya sudah, Mas. Tanda tangannya besok aja, sekalian, biar lengkap. Lagian pertanyaan Ibu tadi biar Bu Nadya juga denger."
"Siap, Pak," Alfan menjawab ringan.
Map plastik bening itu kembali masuk ke tas, di antara laptop dan charger, dua rangkap berita acara yang belum tersentuh satu tinta pun. Di layar Bu Sari, kolom penjadwalan ruang dibiarkan tanpa centang.
Rapat berlanjut ke agenda lain. Pak Darmawan menjelaskan tiga penawaran kontraktor untuk perbaikan genteng ruang guru, salah satu guru mengusulkan atap kantin sekalian diperbaiki, dan diskusinya molor lebih lama dari yang direncanakan. Alfan sempat ditanya apakah perbaikan atap akan mengganggu jaringan internet sekolah, jawaban yang bisa dia berikan tanpa berpikir. Setelah itu soal jadwal pelatihan guru untuk modul nilai, yang harus muat sebelum penilaian tengah semester. Alfan mencatat tanggal-tanggalnya di laptop, memastikan tidak ada yang bentrok, dan diam-diam menyadari ironinya sendiri.
Rapat ditutup menjelang azan zuhur. Kursi-kursi didorong kembali ke bawah meja dengan bunyi berdecit di lantai keramik. Guru berkerudung batik berhenti sebentar di dekat Alfan, menepuk buku catatannya, "Minggu depan, Mas," lalu pergi sambil tersenyum, entah menagih atau sekadar mengingatkan.
Alfan merapikan kabel HDMI yang longgar itu dan melirik ke ujung meja sekali lagi. Map biru masih rapi di tempatnya, pulpennya masih sejajar, gelas air mineralnya masih tersegel utuh. Kursi itu tetap kosong dari awal sampai akhir, seperti tanda baca yang ditaruh di tengah kalimat yang belum selesai ditulis.
Hari panen, pikirnya, dan tertawa kecil sendiri. Panennya ditunda.
Di perjalanan ke halte, dia sudah mulai menyusun candaan pembuka untuk besok. Sesuatu soal rapor, mungkin. Soal format nilai yang pasti akan ditanyakan seorang waka kurikulum. Sesuatu yang ringan, yang bisa membuat orang yang baru dia temui tertawa di menit kelima, seperti biasanya.
Dia tidak tahu kenapa dia merasa sedikit kecewa kursi itu tidak terisi hari ini. Toh besok juga diisi.